Featured Post

Rekomendasi

Sudah Bosan Mendengar Berita Tentang Covid

  Covid itu nyata. Bahkan beberapa orang yang kita kenal makin banyak yang kena. Ada juga orang-orang yang percaya adanya covid tapi gak men...

Font-Font yang Sering Kupakai Untuk Ndesain

Font-Font yang Sering Kupakai Untuk Ndesain


 

Sebagai seorang tukang ndesain, tentunya masalah font sering jadi perhatianku. Kebanyakan dari kita pasti menginstall berbagai jenis fonts di komputer ataupun laptop, bahkan sampai kita lupa kalau pernah menginstallnya. Balik lagi yang sering dipakai ya cuma itu-itu aja. Hahaha.

 

Kali ini aku mau share beberapa fonts yang sering aku pakai untuk membuat proyek desain. Sebagian besar aku pakai font dari koleksi Google Fonts. Karena font-font dalam keloksi tersebut sudah dikurasi oleh tim google dan lisensinya "aman" - artinya kita gak usah pusing dengan urusan lisensi, kita sudah bisa pakai font tersebut dengan legal baik untuk keperluan pribadi maupun komersil, dan gratis pula! 

 

Perlu diketahui, file-file yang ada di internet itu tidak semuanya gratis. Masing-masing punya lisensi, boleh dipakai untuk apa, perlu beli lisensi atau tidak, dsb. Meskipun bisa download gratis, tapi pastikan juga baca lisensinya apakah boleh dipakai untuk keperluan komersil atau tidak. Terlebih banyak juga penyedia font (dan foto, gambar, musik, dll) ilegal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sejauh pengalamanku, website yang aman untuk cari font gratis di antaranya Google Fonts, Font Squirrel, dan Adobe Fonts (khusus untuk pengguna software adobe). Untuk web semacam dafont, 1001fonts, dsb perlu di-kroscek ketentuan lisensi masing-masing fontnya sebelum dipakai. Pernah ada kejadian sebuah brand dituntut oleh desainer font karena ketahuan telah memakai font buatannya untuk keperluan komersil tanpa beli lisensi ke desainer font tersebut. Daripada repot di kemudian hari, maka pastiin aset-aset desain yang kita pakai ini aman dan legal.


Maaf deh malah jadi ngelantur ke sana ke mari. Kita mulai daftarnya:

1. Montserrat

Favoritku, paling sering kupakai. Masuk ke kategori sans serif. Bentuknya elegan dan clean. Dimodifikasi juga gampang. Cocok untuk bikin desain yang modern, elegan, dan minimalis. 


2. Raleway

Hampir sama dengan Montserrat, bedanya dia punya positioning vertikal yang berbeda-beda untuk beberapa karakter angka. Ciri khas pembedanya dia punya lengkungan kecil di karakter semacam huruf l, d, u, dan sebagainya.


3. Lato

Jika Montserrat dan Raleway punya sudut-sudut yang runcing, Lato ini lebih soft.


4. Poppins

Akan terlihat sekali ciri khasnya font ini punya basis bentuk sebuah lingkaran. Mengingatkan ke salah satu font bawaan windows, Century Gothic. Pembeda lainnya dengan 3 fonts di atas untuk huruf "a" menggunakan single storey (mirip huruf d namun dipotong atasnya).


5. Comfortaa

Font ini lebih terkesan santai dan friendly, ujung-ujungnya rounded, sudutnya juga soft. Cocok dipakai untuk bikin desain yang fun misal untuk produk anak-anak, makanan manis, pesta lucu, dll


6. Philosopher

Ciri khasnya punya sirip-sirip elegan, bikin kesan mahal dan pinter layaknya seorang filsuf, sesuai namanya. Cocok untuk brand yang berhubungan dengan kosmetik, produk herbal, literasi, dsb. 


7. Teko

Bentuk dasar mengkotak dan narrow, menampakkan kesan high tech. Cocok untuk tema-tema futuristik. 


8. Libre Baskerville 

Font dari kategori serif, cocok untuk yang butuh tampilan klasik dan rapi. 


9. Milonga 

Mungkin ini masuknya display font, cocok untuk desain-desain retro/vintage. 


10. Cinzel

Font serif yang lain, biasanya dikombinasikan dengan Cinzel Decorative, untuk karakter-karakter tertentu ada bentuk dan positioning yang lebih artistik dan menarik seperti pada huruf A, L, R, dan sebagainya. Cocok untuk bikin desain dengan tema semacam fairy tale, nikahan, kecantikan, dsb.


Mungkin itu dulu untuk saat ini. Keterangan yang aku tulis berdasarkan pengalaman pribadi dan mungkin bisa saja ada istilah atau pengertian yang belum benar, maklum belajarnya otodidak, tanpa guru dengan teori yang pasti. Hehe. Kemungkinan daftar ini akan diupdate di kemudian hari sesuai dengan font-font yang sering kupakai, kali aja seleranya berubah. Semoga artikel ini bermanfaat ya!

Sudah Bosan Mendengar Berita Tentang Covid

Sudah Bosan Mendengar Berita Tentang Covid

 

Covid itu nyata. Bahkan beberapa orang yang kita kenal makin banyak yang kena. Ada juga orang-orang yang percaya adanya covid tapi gak menganggap seberbahaya itu. Ya, setidaknya untukmu sendiri. Tapi ingat di sekitar ada orang tua, orang yang punya komorbid, dan juga anak-anak yang saat ini belum bisa menerima vaksin. Seandainya kalau kamu terpapar dan bisa sehat pun, tanpa sadar bisa menularkan pula kepada mereka. Mereka imunitas tubuhnya gak sekuat kamu yang masih muda. Plis lebih waspada dan empati ke orang lain juga. Logikamu sudah banyak bekerja menyerap teori ini itu, tapi tolong pake hatimu juga ya. Ada jiwa-jiwa di sekitar kita yang harus dijaga juga.

 

Punya istri seorang tenaga kesehatan membuatku tahu sedikit banyak tentang keadaan di rumah sakit. Buat anda-anda yang masih menganggap sakit apapun di rumah sakit pasti dicovidkan, tolong dipahami. Para nakes bekerja berdasarkan pemeriksaan dan bukan asal diagnosa, terlebih mereka juga sudah ada sumpah profesi. Jika anda merasa dicovidkan, berarti memang nyatanya sudah terpapar virus itu. Entah karena usia renta, belum vaksin, maupun ada penyakit yang bikin imun tubuh menurun, yang membuat lebih mudah terpapar virus yang mutasinya sudah gila-gilaan ini. Kalau boleh memilih, para nakes (setidaknya istriku) tentunya memilih untuk kerja seperti biasa meski tanpa ada insentif tambahan, daripada dapat insentif tambahan tapi berkerja semakin berat di bawah bayang-bayang covid.


Semua pengen pandemi lekas usai, pengen bebas ke mana-mana, konser, piknik, makan, bikin acara, dll. Bukan berarti aku 100% mendukung pemerintah. Menurutku ada juga kebijakan pemerintah yang aneh. Misalnya: tempat makan dan belanja tutup lebih awal (padahal siang pun virus juga bisa menyebar, gak cuma malam aja), ruas-ruas jalan ditutup (otomatis pengguna jalan akan cari jalan lain yang justru malah menimbulkan penumpukan kerumunan di jalan alternatif), dsb.


Miris dan ngeri saat melihat di jalanan beberapa orang masih santai gak pake masker, bahkan masih sempat buka masker ngerokok di tempat ramai dan meludah di jalan. Kalau di tempat privat yang gak banyak orang mah terserah kalau mau ngerokok atau meludah, bahkan sampai tenggorokan kering pun monggo.

 

Jangan cuma mengandalkan pemerintah atau menunggu bantuan negara. Ayo lebih waspada dimulai dari diri sendiri. Preferensi pribadi, lebih nyaman ikutin info dari akun resmi faskes atau akun pribadi dokter yang sudah terpercaya daripada akun pemerintah (kebanyakan gak cepet juga updatenya, karena dalam proses penerbitan postingan pasti melalui birokrasi a-z dulu).


Aku sendiri sudah mencoba waspada dan menjaga orang-orang di sekitarku. Kurang-kurangi piknik nongkrong dan pergi-pergi yang gak perlu. Postingan di feed atau story ig-ku kebanyakan juga latepost, yang beneran realtime mungkin cuma 10% dari keseluruhan postinganku. Itupun caption, tag lokasi, dsb biasanya juga ngaco buat seru-seruan. Intinya, tahan dulu keinginan-keinginan yang tidak dibutuhkan, kurangi mobilitas terutama di tempat ramai. Kalaupun terpaksa harus berada di tempat ramai, perkuat proteksi diri, berusaha gak deket-deket sama orang lain, pake masker, sering-sering pake hand sanitizer atau cuci tangan, dsb.


Semoga semua yang sakit lekas dikuatkan dan sembuh. Semoga kita yang sehat selalu dijauhkan dari paparan virus. Semoga yang belum sadar segera disadarkan. Dan semoga pandemi ini lekas usai. Kita semua sudah bosan mendengar berita tentang covid, bukan?

#15TahunGempaJogja

#15TahunGempaJogja

 

Gempa Jogja 15 tahun yang lalu masih menyisakan memori bagi para korban dan orang-orang yang terdampak. Aku turut merasakannya karena lokasi tempat tinggal yang tidak begitu jauh dari Jogja, di mana pusat gempa itu terjadi.

 

Sabtu pagi, saat itu aku masih kelas 6 SD. Siap-siap berangkat ke sekolah, tiba-tiba ada lindhu (bahasa lokal untuk gempa). Semua panik. Tapi tetap berangkat ke sekolah karena ada ujian kelulusan. Baru beberapa menit ngerjain ujian tiba-tiba ada kabar akan ada tsunami, karena airnya sudah sampai Prambanan. Suasana di sekolah langsung gaduh, baik murid, guru, dan para orang tua murid yang pada datang ke sekolah jemput anaknya. Jalanan di depan sekolah sangat semrawut penuh kepanikan, padahal di hari biasa cukup lengang. Aku lupa entah bagaimana caranya saat itu aku bisa sampai rumah. Jalan kaki, naik sepeda, atau diajak boncengan sama siapa lupa.

 

Sampai di rumah, ada teman bapak yang ngungsi ke sini karena dia menganggap altitude kawasan rumahku lebih tinggi daripada rumahnya. Terlebih di depan rumah ada jurang sehingga kalau terjadi tsunami airnya akan nampung ke situ dulu, gak sampai rumah.

 

Puji Tuhan setelah itu kondisi aman meski ada beberapa gempa kecil susulan. Listrik mati beberapa hari. Warga-warga pada tidur di emperan rumah masing-masing, karena takut terjebak kalau-kalau ada gempa besar lagi.

 

Setelah beberapa hari listrik nyala, kami bisa nonton tv. Ternyata banyak daerah yang kena dampak gempa cukup parah. Tentunya di Jogja dan kawasan Klaten bagian selatan (Wedi, Bayat, dan sekitarnya). Belakangan kami ketahui bahwa air yang sampai prambanan itu bukan dari laut selatan, tapi ada pipa dari perusahaan air yang bocor akibat gempa. Hoax di era itu.

 

Bersyukur bantuan segera berdatangan khususnya untuk daerah-daerah yang kena dampak parah. Bahkan bantuan dari luar negeri. Walaupun di lapangan kabarnya terjadi beberapa penjarahan juga. Tapi untungnya tercukupi.

 

Setelah recovery pasca gempa selesai, malah ada beberapa warga yang jual barang-barang sisa bantuan tersebut ke pasar. Dan laku loh!

 

Ada satu cerita menarik lagi yang aku dengar dari tetangga. Kebetulan rumahnya terbuat dari gedhek (anyaman bambu), kondisi awalnya sudah reot. Setelah gempa eh malah jadi tegak lagi! Hahaha.

 

Bersyukur kita masih diberi kesempatan untuk bangkit lagi setelah bencana besar itu terjadi. Turut berdukacita dan memanjatkan doa untuk semua korban jiwa saat peristiwa itu terjadi. Semoga kita yang masih berkelana di dunia ini selalu diberi keselamatan. Amin!

Paskahan di Rumah Sakit

Paskahan di Rumah Sakit

Tahun lalu, kami merayakan malam paskah di bangsal rumah sakit. Meskipun Tyas sudah sering keluar masuk rumah sakit (karena memang bekerja di situ), tapi pertistiwa setahun lalu cukup dramatis kalau diingat-ingat lagi. Apalagi saat itu adalah masa awal pandemi covid masuk ke Indonesia.

Sehari sebelumnya, kami ikut misa Jumat Agung secara online. Di tengah misa itu Tyas pusing dan demam tinggi, terpaksa ia menyelesaikan setengah misa dengan tertidur. Begitu pula yang dirasakan temen sekosnya, Domi. Dia juga merasa pusing dan demam.

Antara butuh tapi takut. Butuh berobat biar gak pusing dan panas lagi, tapi takut kalau diagnosanya mengarah ke covid. Takut karena saat itu adalah penyakit baru yang dampak dan penanganannya belum tau bakalan gimana, makin takut lagi kalau urusan ke hal-hal lainnya bakalan ribet.

Karena sudah tidak tahan lagi dengan sakit yang dirasa, akhirnya pada malam harinya memberanikan diri ke IGD. Mereka berdua melalui screening, rontgen, dan serangkaian tes lainnya. Selama menunggu hasil tes itu pun mereka ditempatkan di ruang isolasi. Aku dan temannya Domi menunggu dengan gundah di luar, karena yang kita tahu pusing dan panas merupakan salah satu gejala dari covid.

Hasil yang dinanti tiba, Domi dipanggil duluan, ternyata dia hanya mendapat diagnosa penyakit ringan, diberi obat dan rawat jalan. Aman. Tyas gimana? Cukup deg-degan nih karena kita disuruh duduk dulu (yang berarti ada sesuatu yang harus dibicarakan dalam waktu agak lama). Lanjut ke paragraf selanjutnya ya wkwk

Kata petugas IGD, dari hasil rontgen dan test lainnya tidak mengunjukkan gejala covid. Bukan merupakan PDP, ODP, ataupun OTG. Pada saat disebutkan kata OTG kami ketawa. Kami kira petugas IGD sedang bercanda memasukkan istilah OTG untuk mencairkan suasana kami yang lagi deg-degan. Menurut pengertian kami, istilah OTG merujuk ke USB on-the-go seperti yang kita tahu sebelumnya. Tapi ternyata setelah beberapa hari kemudian, OTG yang dimaksud petugas IGD adalah Orang Tanpa Gejala (covid). Jadi ternyata waktu itu gak ada bercandanya sama sekali gais! Hahaha

Oiya, diagnosanya apa? Ternyata Tyas mendapat diagnosa DBD. Padahal dia tidak merasa digigit nyamuk dalam beberapa hari terakhir. Walaupun demikian, tetap disyukuri karena sakitnya bukan karena covid seperti yang kita takutkan. Malam itu juga dia dipasangi infus dan rawat inap. Hari selanjutnya otomatis kami merayakan paskahan di bangsal rumah sakit karena aku yang menungguinya selama dia rawat inap. Maklum kami merantau, jadi mau tak mau harus aku yang menemaninya karena tidak ada saudara yang domisilinya dekat.

Puji Tuhan beberapa hari kemudian kondisi Tyas membaik, makin sehat, dan diperbolehkan pulang. Puji Tuhan juga karena biaya pengobatan dan biaya rawat inap full ditanggung BPJS. Jadi, inti dari postingan ini adalah: ayo ikut BPJS! Manfaatnya beneran terasa! Seandainya kita tidak merasakan manfaatnya pun, secara tidak langsung ada orang lain yang sudah kita bantu dalam pengobatan penyakitnya. Masa iya kita mengharapkan sakit agar bisa merasakan manfaat bayar iuran BPJS tiap bulan, gak juga kan? Hayoooo

Akhir kata, selamat paskah teman-teman! Sehat selalu! Tuhan memberkati kita semua :)
Sepatu untuk Nikahan

Sepatu untuk Nikahan

Sepatu merupakan salah satu item penting dalam sebuah outfit nikahan. Karena sejauh ini sih aku belum pernah nemu ada orang yang konsep nikahannya nyeker alias tanpa pakai alas kaki. Sebenarnya cari sepatu itu gampang, tapi seringkali yang bikin susah adalah selera kita. Hahaha. Kalau gak mau pusing-pusing, ada kok jasa persewaan outfit nikahan termasuk dengan sepatunya. Biasanya mereka bundling dengan jasa make up. Tapi berhubung untuk jas dan gaun pengantin yang kita pakai itu kita bikin sendiri, jadi konsekuensinya adalah harus nyari sepatu sendiri juga. Mungkin bisa sih cari pinjeman ke teman atau saudara, tapi kita pengen beli sekalian. Alasannya karena kebetulan kita juga belum punya, jadi siapa tau besok-besok kalau dibutuhkan untuk acara lainnya gak perlu susah-susah nyari lagi. Hihihi.

Dari seluruh rangkaian acara pernikahan kita, yang paling kita pikirin untuk urusan sepatu adalah saat penerimaan sakramen perkawinan di gereja, resepsi, dan boyongan. Untuk acara tunangan dan ibadat midodareni kita pakai sepatu yang sudah dipunyai sebelumnya. Jadi gak terlalu ribet soal itu.

Kita bahas yang pertama untuk sepatu yang dipakai saat di gereja. Kami ingin berpenampilan formal menyesuaikan dengan acara yang khusyuk dan sakral. Untuk itu kami berencana untuk pakai pantofel atau boots, lalu Tyas memakai heels.

Aku sempat cari-cari sepatu pantofel dan boots di beberapa toko di Bandung tapi gak nemu yang sreg. Akhirnya dapet sepatu pantofel di toko Pantes, salah satu toko sepatu dan tas di Klaten. Salah satu alasanku cari di situ karena harganya cukup terjangkau. Usahakan pas beli pakai celana kain sekalian, biar bisa nyobain kira-kira cocok gak buat dipadukan dengan modelnya. Aku dapat sepatu dengan merk (lupa) seharga 180 ribuan. Tentunya dengan harga segitu dapetnya sepatu dengan material kulit sintetis. Karena memang bukan untuk dipakai sehari-hari dengan intensitas rutin, jadi pakai bahan non-premium pun tidak masalah. Yang penting sudah sesuai kebutuhan.



Lalu lanjut ke sepatunya Tyas. Kita sudah nyari di beberapa pusat perbelanjaan tapi cukup susah untuk mencari yang sesuai selera. Ada yang sesuai selera di online shop, tapi ragu kalau nanti barangnya yang datang gak sesuai ukurannya. Dengan modal stalking sosmed dan google maps, kami nemu beberapa toko sepatu offline lain yang sepertinya punya koleksi lengkap. Akhirnya kami nemu sepatu yang cocok di Istana Sepatu Bandung, yang lokasinya di seberang Bandung Indah Plaza. Kami mendapatkan sepatu merk Jemma dengan harga sekitar 200 ribuan. Warna dan modelnya pas dengan gaun yang akan dikenakan Tyas.


Sepatu yang dipilih Tyas yang sebelah kiri. Ini foto pas nyoba-nyobain sepatu di toko


Nah ini pas kita pakai sepatunya saat acara di gereja

Setelah mikir sepatu untuk di gereja beres, kami lanjut nyari sepatu untuk acara resepsinya. Kami ingin berganti suasana dengan yang lebih santai, karena konsep resepsi kita tidak memakai cara adat. Maka kita menyepakati untuk pakai sneakers karena sedikit banyak teracuni dari trit di twitter dan pinterest. Hahaha. Kebayang berdiri selama 2 jam kayaknya bakalan pegel juga kalau pakai heels atau pantofel, maklum kami gak terbiasa pakai itu untuk aktivitas sehari-hari. Cek di bawah ini untuk sumber inspirasi kami dari twitter:
 
Untuk sneakers lagi-lagi aku cari yang harganya terjangkau. Hahaha. Aku melirik ke beberapa brand lokal di antaranya adalah warrior, blucrat, ventela, dan geoff max. Kebetulan saat itu ada event 11.11 di shopee dan geoff max memberi diskon untuk seri authentic-nya. Seri ini model dan warnanya cukup kalem, cocok lah dipadukan dengan jas hitam yang akan kupakai. Dengan sedikit perjuangan begadang pukul 00.00 akhirnya bisa dapet sneakers geoff max authentic black gum seharga 150 ribuan. Mantap dah!

 
Giliran Tyas nih susaaaaahh banget nyari sneakers yang sesuai selera. Kami sudah bolak-balik keliling pusat perbelanjaan di Bandung dan masih gak nemu yang sreg. Putar otak, lalu keinget salah satu postingan teman di Instagram, Penelovy. Dia customize dress kebaya nikahannya sendiri secara handmade. Keren! Jadi ingin customize outfit nikahan juga. Bedanya yang ingin kami customize kali ini medianya sneakers. Dapat inspirasi juga dari thread @dewisutrisno_ di twitter, jadi makin semangat!
 
Kebetulan Tyas punya sneakers putih yang masih bagus. Ada kain brocade sisa bahan jahit gaun juga. So, let's go!
 

Sneakersnya kebetulan merk nevada. Cuci bersih dulu sebelum eksekusi


Persiapkan alat dan bahan pendukung


Bikin pola pakai kertas tipis (semacam kalkir) dan bolpen


Potong kain mengikuti pola yang sudah dibuat di kertas sebelumnya


Tempelin kain yang sudah dipotong ke sepatunya


Ternyata lem tembak gak bisa nempel kuat ke bahan kulit sintetis. Akhirnya pakai lem PVAC, biasanya merk Fox tapi pas nyari di toko material dekat rumah adanya merk Hasuki. Pakai lem jenis ini karena dulu pernah bikin proyek dan hasilnya bagus. Lemnya warna putih pekat, tapi kalau sudah kering warnanya bisa jadi transparan.


Rapikan sisa-sisa potongan kain yang gak pas. Lalu tambahin aksesoris payet, ngambil dari kain brocade, lalu ditempel pakai lem PVAC juga.


Diamkan dulu sehari semalam karena lem ini memang agak lama pengeringannya. Setelah itu pasang tali dan beres!


Ini dia penampakan kedua sneakers kami sewaktu dipakai saat hari-H

Untuk acara boyongan keesokan harinya, aku pakai pantofel yang sama dengan yang kupakai saat penerimaan sakramen perkawinan di gereja, cuma ganti kaos kaki aja. Ehehe. Sedangkan Tyas pakai sepatu dari seserahan. Memang sudah kita set begitu, sehingga barang-barang yang dipakai seserahan tidak hanya sebagai formalitas semata, tapi juga beneran dipake. Sepatu yang ini nyarinya gak begitu susah karena modelnya cukup umum gampang ditemui. Kita dapat sepatu dari Elizabeth Ciwalk seharga (lupa). Cocok dipadukan dengan berbagai outfit, termasuk kebaya.



Begitulah lika-liku pencarian kami untuk mendapatkan sepatu nikahan. Kami coba mendokumentasikan keribetan kami dan cara kami menyiasatinya dan bukan bermaksud pamer (ya karena memang ga ada yang bisa dipamerin sih. Hahaha). Sekedar sharing siapa tau ada manfaat atau inspirasi yang bisa diambil dari tulisan ini. Ehehe. Peace, love, n gaul!
Tips Mencari dan Memilih Vendor Nikahan

Tips Mencari dan Memilih Vendor Nikahan

Cie yang udah mau nikah. Sudah merasakan bingung dan sibuknya merencanakan pernikahanmu? Apalagi kalau perencanaan belum matang. Salah satu yang sering bikin pusing adalah saat mencari dan memilih vendor-vendor pernikahan. Vendor yaitu penjual/penyedia jasa dari pihak luar, dalam tulisan ini kita bahas khususnya untuk acara pernikahan. Vendor-vendor yang biasanya dibutuhkan antara lain: dekorasi, gedung, sound system, wedding organizer, catering, hiburan, souvenir, MC, dan sebagainya. Vendor-vendor yang tersebut tidak mutlak harus ada, tapi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. 
 
Dalam tulisan ini aku akan bagikan beberapa tips sesuai pengalamanku dan Tyas dalam merencanakan pernikahan kami kemarin. Kita mulai dengan mencari vendor pernikahan:
 
1. Tanya teman / saudara / tetangga / kenalan
Ini adalah hal yang paling mudah dan cukup terpercaya. Karena dari obrolan secara personal, tentunya ada interaksi dua arah yang menjadikan proses cari info lebih terarah dan luas cakupannya. Lebih bagus lagi kalau bertanya ke teman yang sudah menikah, jadi akan ada testimoni juga setelah dia menggunakan vendor tersebut, puas atau tidak, atau mungkin ada pelayanan yang kurang baik. Hal itu bisa menjadi bahan pertimbangan kita. Bisa juga tanya ke teman yang sama-sama sedang merencanakan pernikahan, bisa saling bertukar info dan referensi. Bertanya ke orang lain pun tidak masalah untuk semakin memperkaya database nikahan kita, dengan begitu kita bisa memiliki lebih banyak pilihan dari berbagai sudut pandang.
 
2. Search artikel di internet
Ada banyak sekali website dan blog penyedia informasi tentang pernikahan ataupun jasa vendor. Untuk website bisa cek di Bridestory, Weddingku, The Bride Dept, dan mungkin masih banyak lagi lainnya. Tapi yang cukup terkenal ya 3 itu tadi, karena pernah dipakai oleh beberapa artis juga. Untuk blog aku rasa lebih banyak lagi karena ditulis secara personal oleh orang-orang yang membagikan pengalamannya. Salah satunya adalah blog ini tentunya. Hehe. Oiya, aku membuat blog ini terinspirasi dari salah satu blogger yaitu mbak Agata Pinastika yang juga membagikan pengalamannya dalam mempersiapkan pernikahan. Aku banyak mendapat info dan referensi dari tulisan-tulisan yang dimuat dalam blognya tersebut. Terima kasih mbak!
 
3. Explore melalui social media
Ini yang cukup seru dan menyenangkan. Beberapa vendor yang aku dapatkan kebanyakan juga berkat social media. Instagram adalah salah satu yang banyak membantu dalam hal ini. Sekarang hampir semua vendor sudah memiliki akun instagram, sehingga kita bisa tau track record dan portofolionya dalam melayani klien sebelumnya. Kita bisa memanfaatkan fitur search dan hashtag, lalu kombinasikan dengan berbagai kata. Misalnya #dekorbandung, #souvenirmurah, #weddingbandklaten, dan lain sebagainya. Disesuaikan saja sesuai kebutuhan dan lokasi. Kadang perlu juga untuk dicoba berbagai variasi berbeda, misalnya antara #dekorjogja, #dekoryogyakarta, #dekorasiyogya, #dekor_jogja, dan lain sebagainya. Hal yang lebih menyenangkan lagi, sekarang ada tren saling tag dan mentioin sesama vendor yang bekerjasama dalam suatu acara, sehingga memudahkan kita sebagai calon klien untuk memperbanyak referensi dan mendapatkan link. Tidak hanya instagram, kita bisa juga cek platform lainnya. Misalnya youtube untuk mencari tau kualitas dan gaya permainan dari vendor band/hiburan, cocok tidak dengan konsep dan selera kita. Atau google maps untuk mencari tahu tentang info lokasi, foto-foto, dan review dari pengunjung tentang venue nikahan yang kita incar.
 
 
Lanjut untuk tips dan trik dalam memilih vendor nikahan. Yok langsung mulai aja:
 
1. Pastikan vendor itu real 
Ini adalah pertama dan utama, pastikan vendor itu benar-benar ada! Bukan kayak Aisha Wedding Organizer yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan. Bukan terkenal karena bagus, eh ternyata tipu-tipu dan kontroversial.
 
2. Cek portofolionya
Sudah berpengalaman atau belum, cek bagaimana treatment dan hasil kerja mereka terhadap klien sebelumnya. Jangan cuma mengandalkan karena udah kenal, tapi pastiin juga dia bisa bikin yang sesuai dengan apa yang kita pengenin. Ini kesalahanku kemarin, ada beberapa vendor yang merupakan kenalan. Kita asal percaya aja tanpa melihat track record kerjaannya gimana, karena dia juga minim portofolio. Alasan lainnya karena kita pengen bantu teman/tetangga. Hal ini gak salah, tapi kurang benar. Bantu teman/tetangga bisa dengan cara lain kok. Lagipula sayang rasanya kalau mengorbankan acara sekali seumur hidup dengan hal yang gak pasti gini. Memang dalam sebuah acara jarang ada yang bisa 100% berjalan sesuai rencana, tapi kalau bisa mendapatkan yang lebih baik dan pasti, kenapa tidak?
 
3. Jangan malu bertanya
Yup, kalau gak mau sesat di jalan sih. Gimana kalau udah terlanjur nanya-naya, tapi ternyata nanti gak jadi pakai vendor yang itu? Gak masalah. Kita berhak mendapatkan info, dan kita juga berhak untuk mendapatkan vendor dengan pelayanan yang sesuai dengan kriteria kita. Sampaikan ke vendor dengan detail tentang konsep yang kita inginkan, kalau perlu dicatat biar gak lupa. Lihat juga cara komunikasinya, enak gak buat diajak diskusi, responnya ramah atau tidak, fast response atau tidak, dll. Kalau kita bisa nyaman saat berkomunikasi dengan vendor tersebut, wedding dream kita semakin memungkinkan untuk dicapai. Kalau ada vendor yang tertutup atau tidak mau kasih banyak info dalam menanggapi kebutuhan kita? Simpel, jangan dipake. Intronya aja udah gak enak, apalagi kalau dipaksain buat kerja bareng, nanti juga gak smooth. Tenang, masih banyak pilihan vendor lainnya.
 
4. Stick on budget 
Cari vendor yang harga produk/jasanya sesuai dengan rencana. Jangan sampai karena terlalu pengen mengejar wedding dream malah jatuh miskin. Kalau underbudget malah gakpapa, asal dipastikan produk/jasa yang ditawarkan vendor benar-benar sudah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan kita. Sisa budget bisa dipakai untuk vendor lain yang terpaksa harus overbudget (subsidi silang). Kalaupun tidak ada yang overbudget malah lebih bagus lagi, uangnya bisa ditabung untuk kebutuhan rumah tangga nantinya. Misalnya nabung untuk beli rumah, kendaraan, persiapan kehamilan, kelahiran anak, pendidikan, investasi, tabungan pensiun, dll.
 
5. Sistem booking
Ini harus dipastikan agar pada tanggal acara pernikahan akan digelar, si vendor bisa menyanggupi dan menandai agendanya. Harus DP dulu, bayar full di depan, atau cukup bilang dulu aja bayar belakangan (biasanya kalau sudah kenal baik dengan vendor yang bersangkutan).

 
Mungkin itu aja yang bisa aku bagikan menurut pengalamanku dan Tyas kemarin. Kalau ada yang ingin ditanyakan bisa ketik komentar di bawah ini. Kalau ingin diskusi atau kasih masukan boleh juga lho. Bebas!
 
Selamat mempersiapkan. Sehat selalu ^^
Jadi Freelancer

Jadi Freelancer

Tulisan ini sebenarnya adalah daur ulang dari salah satu postingan di blog lamaku pada tahun 2012. Saat itu aku masih sekolah di SMK, yg sebentar lagi lulus dan akan merasakan bangku kuliah. Kepikiran kalau biaya masuk kuliah yang ternyata muahaaal, pasti uang yang harus dikeluarkan ortu juga makin banyak. Aku melamun, mikir gimana caranya biar bisa dapat uang sendiri, biar gak membebani ortu terus. Apalagi di lingkungan pertemananku banyak yang langsung bekerja setelah lulus SMK. Jadi makin besar lah hasrat kerja, namun tetap harus kuliah atas perintah dan rekomendasi ortu.
 
Dulu bapak pernah cerita; ada salah satu anak rekan kerjanya yang mencari uang dengan cara mendesain dan ikut sayembara lewat internet. Bahkan sampai dia bisa beli motor sendiri dari pekerjaannya tersebut. Tertarik dengan hal tersebut aku mulai gugling. Ternyata pekerjaan tersebut istilahnya adalah freelance. Sedangkan orangnya namanya freelancer. Dari namanya aja udah keliatan keren nih, jadi makin pengen ngulik lebih dalam. Secara harafiah "free" artinya bebas / lepas / gratis, sedangkan "lance" sampai saat ini pun aku juga gak tau artinya apaan. Haha
 
Dari beberapa artikel yang kubaca, freelance yaitu bekerja secara independen (tidak terikat) suatu perusahaan atau instansi. Kerjaan freelancer sendiri ada banyak, tergantung dari kemampuan masing-masing freelancer. Biasanya mereka menekuni satu bidang keahlian saja. Misalnya: desainer (desain grafis, desain website, dsb), programmer, coder, dan masih banyak lagi. Nah anaknya rekan kerja bapak tadi spesialisnya di desain grafis.
 
Seorang freelancer bisa kerja kapanpun dia mau, karena tidak terikat dengan perusahaan, jam kerja, tata tertib perusahaan, perintah bos, dsb. Jadi, kalo freelancer pengen dapat duit, ya dia kerja (ya iya lah). Hanya bermodalkan koneksi internet, dia sudah bisa bekerja. Nggak perlu pake jas berdasi, pake kaos oblong dan boxer aja bisa. Nggak cuma itu, yang pasti butuh modal ilmu, kreatifitas, semangat, dan niat yang tinggi.
 
Dari hal itulah aku mulai tekun mencari referensi-referensi soal dunia freelancer. Kebetulan aku suka dengan desain grafis, lalu aku baca-baca cerita pengalaman yang ditulis para freelancer yang sudah cukup sukses di bidang desain grafis. Mereka ikut lomba dalam sebuah desain web yang khusus untuk para freelancer. Mulai dari situ aku belajar secara otodidak. Yah, meskipun belum jago, hasil karyaku udah bisa bikin puas, minimal untuk diri sendiri. Hehe.
 
Update:
 
Kenalan sama freelance tahun 2012, tapi baru nyobain freelancing agak serius di tahun 2015 saat sudah lulus kuliah dan mulai bekerja. Ternyata memang gak bisa optimal kalau freelancing sambil kerja di industri, karena setelah pulang kerja biasanya udah capek duluan.
 
Hampir setahun kerja di industri, lalu resign karena pengen kerja jadi desainer grafis. Setelah nyobain daftar di berbagai agency, developer, sampai digital printing, gak ada yang keterima karena memang aku gak ada basic maupun sertifikat sebagai desainer grafis, modal seneng doang.
 
Selama nganggur aku mulai nyoba freelancing lagi. Banyak belajar lagi lewat google, youtube, dan sebagainya. Akhirnya dapat penghasilan pertama Oktober 2016 dengan nominal yang lumayan untuk sekelas pengangguran. Mulai dari situ aku makin tertarik untuk mendalami bidang ini.
 
Meski awalnya tidak ada dukungan sama sekali dari ortu. Tapi seiring berjalannya waktu, karena aku lumayan ngeyel dan ambisius juga untuk mengejar cita-citaku sejak tahun 2012 ini, akhirnya lambat laun orang tua pun bisa mengerti. Sampai pada pertengahan 2019 lalu aku diajak bertamu ke anaknya teman kerja bapak, yang aku ceritakan di awal tadi. Oh ini toh orangnya yang menginspirasi aku bertahun-tahun akhirnya bisa bertemu, bertukar pengalaman, dan ilmu. Tapi pada intinya sih dengan berkunjung itu biar ortu makin yakin kalau freelancer adalah salah satu pekerjaan yang bisa menghasilkan dan prospektif.
 
Gak terasa tahun 2021 ini aku sudah 5 tahun menekuni jadi freelancer, banyak suka dukanya. Dari dukanya dulu: Banyaaak! Kena PHP klien sudah makanan sehari-hari, maka dari itu gak boleh baperan. Hahaha. Kadang sebulan atau dua bulan gak dapet penghasilan juga pernah. Ada tips pengelolaan keuangan tersendiri untuk para freelancer. Sudah ada banyak artikelnya, gugling aja. Lalu berlanjut ke hal-hal yang menyenangkan: penghasilan berupa mata uang asing karena kebanyakan klien adalah orang luar negeri. Berasa keren aja sih meski nominalnya juga sama aja dengan orang yang kerja formal dengan bayaran rupiah wkwkw. Udah bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan uang sendiri, beli ini itu, makan ini itu, dll. Sampai bisa modalin nikah di awal tahun ini. Ehehehe
 
Sementara itu aja yang bisa aku ceritakan saat ini. Doakan biar aku bisa jadi freelancer sukses ya! Di postingan aslinya, aku nulis kalimat penutup kurang lebih begini, "Teman-teman yang baca tulisan ini bila terinspirasi, mari jadi freelancer!" Tapi sekarang kalimat itu serasa mengganjal. Harusnya gini sih, "Jangan jadi freelancer, nanti sainganku nambah dong!" Hahaha nggak ding, bercanda, silahkan jadi apapun yang kalian mau, termasuk jadi freelancer sekalipun. Kata pepatah, rejeki kan udah ada yang ngatur. Jadi, mari kita deketin aja yang ngatur :D



Covid-19, Vaksin, dan Program Kehamilan

Covid-19, Vaksin, dan Program Kehamilan

Sedih setelah liat berita di TV ada orang-orang yg menolak vaksinasi covid-19. Kalau masuk kelompok eksklusi (bocah, lansia, ibu hamil/menyusui, dsb) mah wajar. Lha ini alasannya pada gak masuk akal: takut jadi kelinci percobaan, takut malah sakit, gak divaksin aja udah sehat kok, dll.
 
Sekian ribu orang (bahkan lebih) sudah divaksin. Trus sekarang ada yang menolak divaksin dengan alasan ga mau jadi kelinci percobaan? Yang bener aje? Itu lho pak Jokowi yg pertama dapet vaksin di Indonesia, beliau masih hidup, sehat, masih bisa kerja dan rapat kemana-mana pula. Takut malah sakit? Manfaat yg didapatkan dari vaksin lebih besar daripada efek sampingnya. Mending mana demam sehari vs kena covid 2 minggu? Itupun kalo bisa langsung sembuh. Lagipula gak semua orang merasakan efek samping ini, ada juga yang biasa aja tanpa efek samping apapun setelah divaksin. Gak divaksin udah sehat? Justru itu! Vaksin ini untuk mecegah biar gak terkena virusnya, kalau sudah keburu kena malah gak bisa divaksin dong bu...
 
Ada juga yang nolak gara-gara belum yakin sama penelitiannya. Gila sih, penelitian dan uji klinis yg dilakukan para pakar pun dibantah oleh masyarakat awam. Bukan bermaksud merendahkan orang, tapi aku yakin sebenarnya masyarakat awam juga gak banyak tau tentang seluk beluk penelitian yang dilakukan para pakar yang sudah berpengalaman bertahun-tahun di bidangnya.
 
Harusnya bersyukur dapet prioritas vaksinasi. Eh malah disia-siakan. Tapi gak bisa 100% menyalahkan mereka juga sih. Mungkin aja edukasinya dari pemerintah gak nyampe, atau terbendung oleh hoax-hoax dari grup watsap. Oiya, berita tentang penolakan vaksinasi ini sudah diunggah ke channel resminya CNN, sayang gak selengkap yg ditayangkan di TV


Capek pandemi gak kelar-kelar. Apa-apa dibatasi. Mudik makin ribet, karena dikit-dikit harus swab test. Ga ada konser, acara-acara lain pun banyak dibatasi. Mau piknik juga takut, kalo gak piknik juga stres. Dan masih banyaaaak lagi. Semoga bisa segera merata deh vaksinasinya, dan semoga aku juga segera kebagian jatah juga. Biar makin tenang, pandemi di Indonesia juga berangsur-angsur berkurang dan hilang. Yang gak mau divaksin semoga kelak gak ngrepotin orang lain.
 
Beruntung Tyas sudah divaksin duluan karena dia nakes. Sebelum dapet vaksin ini pun kami sempat bimbang untuk memutuskan. Kalau mau ambil jatah vaksin, otomatis ga boleh hamil dulu selama beberapa bulan karena masuk kelompok eksklusi. Padahal sudah dinanti-nantikan.
 
Dengan segala pertimbangan, tanya-tanya ke dokter, dan cari info dari berbagai artikel akhirnya memutuskan untuk vaksin dulu. Link artikelnya nanti aku tulisin di bawah. Pemikiran kami: vaksinasi covid ini masih eksklusif, belum semua orang dapet jatah. Mumpung ada kesempatan, jadi ambil aja. Alasan lainnya karena ibu hamil lebih rentan terhadap covid daripada orang biasa, lebih banyak dampak buruk yang bisa terjadi. Jadi, mumpung belum hamil mending ambil jatah vaksin itu dulu, biar imun tubuh makin kuat dan makin tenang di hati karena ada sudah proteksi lebih di dalam tubuh. Misalnya mau program hamil dulu, trus abis itu baru vaksin covid pun kelamaan. Bisa setahun lebih karena ibu menyusui juga masih masuk kelompok eksklusi vaksin covid ini.
 
Berikut aku kasih link-link referensi artikel siapatau ada yang membutuhkan juga. Kebetulan daftar linknya asih tersimpan di history chat kami. Kebiasaanku dan Tyas saling share dan mengingatkan kalau ada sesuatu yang penting atau menarik ternyata bermanfaat juga buat nulis blog ini. Hehe
 
 
Artikel satu dan lainnya bisa jadi berbeda, karena memang narasumbernya berbeda. Antar dokter satu dan lainnya pun bisa jadi beda-beda pendapatnya. Jadi kita mau ngikut yang mana bingung juga. Ini virus baru sih, jadi ya maklum masih sedikit pendapat yang valid dan mutlak disepakati seluruh dunia. Akhirnya balik lagi keputusan ada di tangan kita, yang penting dicari mana yang terbaik dan minim resiko. Intinya harus ada diskusi dan kesepakatan di dalam keluarga.
 
Oiya, informasi-informasi yang ada sekarang pun jangan diyakini secara mutlak. Karena sampai saat ini pun si covid masih dalam diteliti terus kan. Bisa jadi ke depan ada hasil penelitian yang membuat aturan dan rekomendasi yang berlaku saat ini berubah. Jadi ya usahakan selalu update info dari sumber yang kredibel. Sebarluaskan ke circle terdekat, terutama keluarga dan orang tua yang kurang up-to-date dengan informasi-informasi terkini.
 
Tadi niatnya cuma mau nulis sedikit keresahan setelah nonton berita di tv. Akhirnya malah bisa nulis (dan curhat) sampai sepanjang ini. Terima kasih untuk kalian yg sudah baca tulisan ini sampai selesai. Semoga kita segera dapet jatah vaksin. Sehat-sehat ya semuanya. God bless u :)
Salah Jurusan?

Salah Jurusan?

Sebagian besar orang disekolahkan melalui jalur umum TK - SD - SMP - dan selanjutnya SMA / SMK. Bagi orang yang mampu, mereka bisa melanjutkan pendidikan ke universitas, tingkatan yang lebih tinggi lagi.
 
Ketika di SMK/universitas pasti dihadapkan dengan berbagai macam jurusan yang sering membuat bingung. Ada orang yang memilih jurusan yang benar-benar sesuai dengan apa yang dia inginkan, ada pula yang terpaksa mengikuti pilihan orang lain (biasanya orang tua). Misal ayahnya seorang politikus, kemudian anaknya dikuliahkan juga di bidang hukum atau sejenisnya meskipun hal itu kadang kurang pas dengan isi hati si anak.
 
Tidak sedikit yang merasa kalau jurusan kuliah yang diambil tidak sesuai dengan keinginan hatinya. Atau bahkan sering terjadi juga baru menyadari saat sudah melewati beberapa semester perkuliahan. Tapi coba cek kembali, apakah ini memang benar salah jurusan atau hanya sedang jenuh karena pelajaran sulit, tugas numpuk, dsb?
 
Di luar hal teknis dan teoritis, sekolah/kuliah juga mengajarkan berbagai hal non teknis (soft skill) yang diperlukan di dunia kerja nantinya. Misalnya saat di kampus kita banyak dihadapkan dengan persoalan, tugas, kerja kelompok, dsb. Hal tersebut sebagai simulasi karena di dalam dunia kerja juga pun juga ada tugas, deadline, proyek, kerjasama dengan orang lain, negosiasi, dan masih banyak lagi. Hal-hal itu secara tidak sadar dapat dilatih melalui dinamika yang terjadi di dalam proses di kampus.
 
Selanjutnya, apakah kerja harus sesuai dengan jurusan pada saat kuliah/sekolah? Antara mengikuti passion atau mengejar gaji yang tinggi? Beruntunglah orang-orang yang bisa memilih jurusan sesuai passion, dan bekerja pada bidang yang sesuai.
 
Nah kalau antara passion dan bidang pekerjaanmu berbeda, apa yang bisa diperbuat?