Paskahan di Rumah Sakit
DailyTahun lalu, kami merayakan malam paskah di bangsal rumah sakit. Meskipun Tyas sudah sering keluar masuk rumah sakit (karena memang bekerja di situ), tapi pertistiwa setahun lalu cukup dramatis kalau diingat-ingat lagi. Apalagi saat itu adalah masa awal pandemi covid masuk ke Indonesia.
Sehari sebelumnya, kami ikut misa Jumat Agung secara online. Di tengah misa itu Tyas pusing dan demam tinggi, terpaksa ia menyelesaikan setengah misa dengan tertidur. Begitu pula yang dirasakan temen sekosnya, Domi. Dia juga merasa pusing dan demam.
Antara butuh tapi takut. Butuh berobat biar gak pusing dan panas lagi, tapi takut kalau diagnosanya mengarah ke covid. Takut karena saat itu adalah penyakit baru yang dampak dan penanganannya belum tau bakalan gimana, makin takut lagi kalau urusan ke hal-hal lainnya bakalan ribet.
Karena sudah tidak tahan lagi dengan sakit yang dirasa, akhirnya pada malam harinya memberanikan diri ke IGD. Mereka berdua melalui screening, rontgen, dan serangkaian tes lainnya. Selama menunggu hasil tes itu pun mereka ditempatkan di ruang isolasi. Aku dan temannya Domi menunggu dengan gundah di luar, karena yang kita tahu pusing dan panas merupakan salah satu gejala dari covid.
Hasil yang dinanti tiba, Domi dipanggil duluan, ternyata dia hanya mendapat diagnosa penyakit ringan, diberi obat dan rawat jalan. Aman. Tyas gimana? Cukup deg-degan nih karena kita disuruh duduk dulu (yang berarti ada sesuatu yang harus dibicarakan dalam waktu agak lama). Lanjut ke paragraf selanjutnya ya wkwk
Kata petugas IGD, dari hasil rontgen dan test lainnya tidak mengunjukkan gejala covid. Bukan merupakan PDP, ODP, ataupun OTG. Pada saat disebutkan kata OTG kami ketawa. Kami kira petugas IGD sedang bercanda memasukkan istilah OTG untuk mencairkan suasana kami yang lagi deg-degan. Menurut pengertian kami, istilah OTG merujuk ke USB on-the-go seperti yang kita tahu sebelumnya. Tapi ternyata setelah beberapa hari kemudian, OTG yang dimaksud petugas IGD adalah Orang Tanpa Gejala (covid). Jadi ternyata waktu itu gak ada bercandanya sama sekali gais! Hahaha
Oiya, diagnosanya apa? Ternyata Tyas mendapat diagnosa DBD. Padahal dia tidak merasa digigit nyamuk dalam beberapa hari terakhir. Walaupun demikian, tetap disyukuri karena sakitnya bukan karena covid seperti yang kita takutkan. Malam itu juga dia dipasangi infus dan rawat inap. Hari selanjutnya otomatis kami merayakan paskahan di bangsal rumah sakit karena aku yang menungguinya selama dia rawat inap. Maklum kami merantau, jadi mau tak mau harus aku yang menemaninya karena tidak ada saudara yang domisilinya dekat.
Puji Tuhan beberapa hari kemudian kondisi Tyas membaik, makin sehat, dan diperbolehkan pulang. Puji Tuhan juga karena biaya pengobatan dan biaya rawat inap full ditanggung BPJS. Jadi, inti dari postingan ini adalah: ayo ikut BPJS! Manfaatnya beneran terasa! Seandainya kita tidak merasakan manfaatnya pun, secara tidak langsung ada orang lain yang sudah kita bantu dalam pengobatan penyakitnya. Masa iya kita mengharapkan sakit agar bisa merasakan manfaat bayar iuran BPJS tiap bulan, gak juga kan? Hayoooo
Akhir kata, selamat paskah teman-teman! Sehat selalu! Tuhan memberkati kita semua :)