#15TahunGempaJogja

#15TahunGempaJogja

 

Gempa Jogja 15 tahun yang lalu masih menyisakan memori bagi para korban dan orang-orang yang terdampak. Aku turut merasakannya karena lokasi tempat tinggal yang tidak begitu jauh dari Jogja, di mana pusat gempa itu terjadi.

 

Sabtu pagi, saat itu aku masih kelas 6 SD. Siap-siap berangkat ke sekolah, tiba-tiba ada lindhu (bahasa lokal untuk gempa). Semua panik. Tapi tetap berangkat ke sekolah karena ada ujian kelulusan. Baru beberapa menit ngerjain ujian tiba-tiba ada kabar akan ada tsunami, karena airnya sudah sampai Prambanan. Suasana di sekolah langsung gaduh, baik murid, guru, dan para orang tua murid yang pada datang ke sekolah jemput anaknya. Jalanan di depan sekolah sangat semrawut penuh kepanikan, padahal di hari biasa cukup lengang. Aku lupa entah bagaimana caranya saat itu aku bisa sampai rumah. Jalan kaki, naik sepeda, atau diajak boncengan sama siapa lupa.

 

Sampai di rumah, ada teman bapak yang ngungsi ke sini karena dia menganggap altitude kawasan rumahku lebih tinggi daripada rumahnya. Terlebih di depan rumah ada jurang sehingga kalau terjadi tsunami airnya akan nampung ke situ dulu, gak sampai rumah.

 

Puji Tuhan setelah itu kondisi aman meski ada beberapa gempa kecil susulan. Listrik mati beberapa hari. Warga-warga pada tidur di emperan rumah masing-masing, karena takut terjebak kalau-kalau ada gempa besar lagi.

 

Setelah beberapa hari listrik nyala, kami bisa nonton tv. Ternyata banyak daerah yang kena dampak gempa cukup parah. Tentunya di Jogja dan kawasan Klaten bagian selatan (Wedi, Bayat, dan sekitarnya). Belakangan kami ketahui bahwa air yang sampai prambanan itu bukan dari laut selatan, tapi ada pipa dari perusahaan air yang bocor akibat gempa. Hoax di era itu.

 

Bersyukur bantuan segera berdatangan khususnya untuk daerah-daerah yang kena dampak parah. Bahkan bantuan dari luar negeri. Walaupun di lapangan kabarnya terjadi beberapa penjarahan juga. Tapi untungnya tercukupi.

 

Setelah recovery pasca gempa selesai, malah ada beberapa warga yang jual barang-barang sisa bantuan tersebut ke pasar. Dan laku loh!

 

Ada satu cerita menarik lagi yang aku dengar dari tetangga. Kebetulan rumahnya terbuat dari gedhek (anyaman bambu), kondisi awalnya sudah reot. Setelah gempa eh malah jadi tegak lagi! Hahaha.

 

Bersyukur kita masih diberi kesempatan untuk bangkit lagi setelah bencana besar itu terjadi. Turut berdukacita dan memanjatkan doa untuk semua korban jiwa saat peristiwa itu terjadi. Semoga kita yang masih berkelana di dunia ini selalu diberi keselamatan. Amin!