Salah Jurusan?

Salah Jurusan?

Sebagian besar orang disekolahkan melalui jalur umum TK - SD - SMP - dan selanjutnya SMA / SMK. Bagi orang yang mampu, mereka bisa melanjutkan pendidikan ke universitas, tingkatan yang lebih tinggi lagi.
 
Ketika di SMK/universitas pasti dihadapkan dengan berbagai macam jurusan yang sering membuat bingung. Ada orang yang memilih jurusan yang benar-benar sesuai dengan apa yang dia inginkan, ada pula yang terpaksa mengikuti pilihan orang lain (biasanya orang tua). Misal ayahnya seorang politikus, kemudian anaknya dikuliahkan juga di bidang hukum atau sejenisnya meskipun hal itu kadang kurang pas dengan isi hati si anak.
 
Tidak sedikit yang merasa kalau jurusan kuliah yang diambil tidak sesuai dengan keinginan hatinya. Atau bahkan sering terjadi juga baru menyadari saat sudah melewati beberapa semester perkuliahan. Tapi coba cek kembali, apakah ini memang benar salah jurusan atau hanya sedang jenuh karena pelajaran sulit, tugas numpuk, dsb?
 
Di luar hal teknis dan teoritis, sekolah/kuliah juga mengajarkan berbagai hal non teknis (soft skill) yang diperlukan di dunia kerja nantinya. Misalnya saat di kampus kita banyak dihadapkan dengan persoalan, tugas, kerja kelompok, dsb. Hal tersebut sebagai simulasi karena di dalam dunia kerja juga pun juga ada tugas, deadline, proyek, kerjasama dengan orang lain, negosiasi, dan masih banyak lagi. Hal-hal itu secara tidak sadar dapat dilatih melalui dinamika yang terjadi di dalam proses di kampus.
 
Selanjutnya, apakah kerja harus sesuai dengan jurusan pada saat kuliah/sekolah? Antara mengikuti passion atau mengejar gaji yang tinggi? Beruntunglah orang-orang yang bisa memilih jurusan sesuai passion, dan bekerja pada bidang yang sesuai.
 
Nah kalau antara passion dan bidang pekerjaanmu berbeda, apa yang bisa diperbuat?