Sepatu untuk Nikahan

Sepatu untuk Nikahan

Sepatu merupakan salah satu item penting dalam sebuah outfit nikahan. Karena sejauh ini sih aku belum pernah nemu ada orang yang konsep nikahannya nyeker alias tanpa pakai alas kaki. Sebenarnya cari sepatu itu gampang, tapi seringkali yang bikin susah adalah selera kita. Hahaha. Kalau gak mau pusing-pusing, ada kok jasa persewaan outfit nikahan termasuk dengan sepatunya. Biasanya mereka bundling dengan jasa make up. Tapi berhubung untuk jas dan gaun pengantin yang kita pakai itu kita bikin sendiri, jadi konsekuensinya adalah harus nyari sepatu sendiri juga. Mungkin bisa sih cari pinjeman ke teman atau saudara, tapi kita pengen beli sekalian. Alasannya karena kebetulan kita juga belum punya, jadi siapa tau besok-besok kalau dibutuhkan untuk acara lainnya gak perlu susah-susah nyari lagi. Hihihi.

Dari seluruh rangkaian acara pernikahan kita, yang paling kita pikirin untuk urusan sepatu adalah saat penerimaan sakramen perkawinan di gereja, resepsi, dan boyongan. Untuk acara tunangan dan ibadat midodareni kita pakai sepatu yang sudah dipunyai sebelumnya. Jadi gak terlalu ribet soal itu.

Kita bahas yang pertama untuk sepatu yang dipakai saat di gereja. Kami ingin berpenampilan formal menyesuaikan dengan acara yang khusyuk dan sakral. Untuk itu kami berencana untuk pakai pantofel atau boots, lalu Tyas memakai heels.

Aku sempat cari-cari sepatu pantofel dan boots di beberapa toko di Bandung tapi gak nemu yang sreg. Akhirnya dapet sepatu pantofel di toko Pantes, salah satu toko sepatu dan tas di Klaten. Salah satu alasanku cari di situ karena harganya cukup terjangkau. Usahakan pas beli pakai celana kain sekalian, biar bisa nyobain kira-kira cocok gak buat dipadukan dengan modelnya. Aku dapat sepatu dengan merk (lupa) seharga 180 ribuan. Tentunya dengan harga segitu dapetnya sepatu dengan material kulit sintetis. Karena memang bukan untuk dipakai sehari-hari dengan intensitas rutin, jadi pakai bahan non-premium pun tidak masalah. Yang penting sudah sesuai kebutuhan.



Lalu lanjut ke sepatunya Tyas. Kita sudah nyari di beberapa pusat perbelanjaan tapi cukup susah untuk mencari yang sesuai selera. Ada yang sesuai selera di online shop, tapi ragu kalau nanti barangnya yang datang gak sesuai ukurannya. Dengan modal stalking sosmed dan google maps, kami nemu beberapa toko sepatu offline lain yang sepertinya punya koleksi lengkap. Akhirnya kami nemu sepatu yang cocok di Istana Sepatu Bandung, yang lokasinya di seberang Bandung Indah Plaza. Kami mendapatkan sepatu merk Jemma dengan harga sekitar 200 ribuan. Warna dan modelnya pas dengan gaun yang akan dikenakan Tyas.


Sepatu yang dipilih Tyas yang sebelah kiri. Ini foto pas nyoba-nyobain sepatu di toko


Nah ini pas kita pakai sepatunya saat acara di gereja

Setelah mikir sepatu untuk di gereja beres, kami lanjut nyari sepatu untuk acara resepsinya. Kami ingin berganti suasana dengan yang lebih santai, karena konsep resepsi kita tidak memakai cara adat. Maka kita menyepakati untuk pakai sneakers karena sedikit banyak teracuni dari trit di twitter dan pinterest. Hahaha. Kebayang berdiri selama 2 jam kayaknya bakalan pegel juga kalau pakai heels atau pantofel, maklum kami gak terbiasa pakai itu untuk aktivitas sehari-hari. Cek di bawah ini untuk sumber inspirasi kami dari twitter:
 
Untuk sneakers lagi-lagi aku cari yang harganya terjangkau. Hahaha. Aku melirik ke beberapa brand lokal di antaranya adalah warrior, blucrat, ventela, dan geoff max. Kebetulan saat itu ada event 11.11 di shopee dan geoff max memberi diskon untuk seri authentic-nya. Seri ini model dan warnanya cukup kalem, cocok lah dipadukan dengan jas hitam yang akan kupakai. Dengan sedikit perjuangan begadang pukul 00.00 akhirnya bisa dapet sneakers geoff max authentic black gum seharga 150 ribuan. Mantap dah!

 
Giliran Tyas nih susaaaaahh banget nyari sneakers yang sesuai selera. Kami sudah bolak-balik keliling pusat perbelanjaan di Bandung dan masih gak nemu yang sreg. Putar otak, lalu keinget salah satu postingan teman di Instagram, Penelovy. Dia customize dress kebaya nikahannya sendiri secara handmade. Keren! Jadi ingin customize outfit nikahan juga. Bedanya yang ingin kami customize kali ini medianya sneakers. Dapat inspirasi juga dari thread @dewisutrisno_ di twitter, jadi makin semangat!
 
Kebetulan Tyas punya sneakers putih yang masih bagus. Ada kain brocade sisa bahan jahit gaun juga. So, let's go!
 

Sneakersnya kebetulan merk nevada. Cuci bersih dulu sebelum eksekusi


Persiapkan alat dan bahan pendukung


Bikin pola pakai kertas tipis (semacam kalkir) dan bolpen


Potong kain mengikuti pola yang sudah dibuat di kertas sebelumnya


Tempelin kain yang sudah dipotong ke sepatunya


Ternyata lem tembak gak bisa nempel kuat ke bahan kulit sintetis. Akhirnya pakai lem PVAC, biasanya merk Fox tapi pas nyari di toko material dekat rumah adanya merk Hasuki. Pakai lem jenis ini karena dulu pernah bikin proyek dan hasilnya bagus. Lemnya warna putih pekat, tapi kalau sudah kering warnanya bisa jadi transparan.


Rapikan sisa-sisa potongan kain yang gak pas. Lalu tambahin aksesoris payet, ngambil dari kain brocade, lalu ditempel pakai lem PVAC juga.


Diamkan dulu sehari semalam karena lem ini memang agak lama pengeringannya. Setelah itu pasang tali dan beres!


Ini dia penampakan kedua sneakers kami sewaktu dipakai saat hari-H

Untuk acara boyongan keesokan harinya, aku pakai pantofel yang sama dengan yang kupakai saat penerimaan sakramen perkawinan di gereja, cuma ganti kaos kaki aja. Ehehe. Sedangkan Tyas pakai sepatu dari seserahan. Memang sudah kita set begitu, sehingga barang-barang yang dipakai seserahan tidak hanya sebagai formalitas semata, tapi juga beneran dipake. Sepatu yang ini nyarinya gak begitu susah karena modelnya cukup umum gampang ditemui. Kita dapat sepatu dari Elizabeth Ciwalk seharga (lupa). Cocok dipadukan dengan berbagai outfit, termasuk kebaya.



Begitulah lika-liku pencarian kami untuk mendapatkan sepatu nikahan. Kami coba mendokumentasikan keribetan kami dan cara kami menyiasatinya dan bukan bermaksud pamer (ya karena memang ga ada yang bisa dipamerin sih. Hahaha). Sekedar sharing siapa tau ada manfaat atau inspirasi yang bisa diambil dari tulisan ini. Ehehe. Peace, love, n gaul!